Dua bintang kawakan Hollywood, Richard Gere (kiri) dan Diane Lane beradu akting pada film “Nights in Rodanthe”.
Setelah menjalani usia hingga paruh baya, mungkinkah kita bisa jatuh cinta lagi? Lalu, cinta seperti apakah itu? Samakah seperti cinta pertama? Sutradara George C Wolfe mengemas kisah itu dalam “Nights in Rodanthe”.
walnya kisah romantis ini ditulis oleh Nicholas Sparks dalam novelnya dengan judul yang sama. Sparks adalah penulis roman yang karya-karyanya juga pernah diangkat ke layar lebar, seperti The Notebook, Message in a Bottle dan A Walk to Remember.
Produser Nights in Rodanthe, Denise DiNovi, adalah produser yang pernah menangani Message in a Bottle dan A Walk to Remember. Sehingga sudah terbayang, suasana seperti apa yang akan tersaji. Ditambah lagi, Richard Gere berperan sebagai aktor utama mendampingi Diane Lane. Semakin tergambar guliran syahdu yang akan didapat.
Nights in Rodanthe menceritakan sosok Adrienne Willis (Diane Lane) dan Paul Flanner (Richard Gere) yang bertemu pada saat usia mereka sudah beranjak jauh. Kisah itu dibuka dengan sosok Adrienne yang gagal mempertahankan rumah tangganya.
Merasa jemu, ia menenangkan diri di sebuah penginapan milik sahabatnya di kota kecil bernama Rodanthe. Sebuah kota kecil di pantai barat Carolina Utara. Penginapan yang berada di pinggir pantai itu, sebenarnya ingin ditutup karena sepi pengunjung dan selalu terkena badai.
Namun, sebelum hal itu terjadi, ada tamu yang sudah memesan untuk menginap beberapa hari. Sehingga Adrienne diserahi tugas mengurus tamu itu. Tamu itu tidak lain adalah Paul Flanner. Seorang dokter kaya raya yang ingin bertemu seseorang di kota kecil itu.
Mudah diterka, Paul pun memiliki masalah pribadi yang tidak jauh beda dengan Adrianne. Mereka, nantinya akan saling suka dan jatuh cinta. Hanya saja, bagaimana dua insan yang sudah matang itu mampu menemukan pijaran cintanya yang kedua, hal ini adalah tantangan sutradara George C Wolfe dan penulis skenario Ann Peacock. Apalagi penulis Sparks mengisahkan, kedua insan itu menemukan cinta mereka dalam beberapa hari saja.
Jika pernah menyaksikan kisah-kisah Sparks yang diangkat ke layar lebar, seperti Message in a Bottle atau A Walk to Remember tentu sudah terbayang gaya romantis apa yang ditawarkan. Setidaknya, tisu atau sapu tangan perlu disiapkan sebelum masuk ruang bioskop. Dalam Nights in Rodanthe, sapu tangan atau tisu itu juga perlu disiapkan, hanya mungkin tidak sering digunakan.
Hal ini karena kejutan-kejutan drama yang ditampilkan terasa minim, sehingga alur cerita mudah ditebak. Selain itu, proses keintiman di antara kedua sosok itu tidak terlukiskan maksimal, dan terkesan ada adegan-adegan yang hilang.
Karya-karya Sparks, umumnya mampu membawa pembacanya meresapi kisah yang menyentuh hati dan mampu mengungkapkan ekspresi tokoh-tokohnya dengan baik. Namun dalam kisahnya kali ini, hal itu tidak terlihat jelas. Berbeda sekali ketika melihat karya Sparks lain yang juga diangkat ke layar lebar seperti Message in a Bottle atau A Walk to Remember.
Richard Gere yang sebelumnya membintangi Message in a Bottle juga tidak mampu mendongkrak kekuatan kisah Nights in Rodanthe. Bukan berarti Gere sudah kehilangan pesonanya di usia yang ke-59 ini. Baik Gere atau Lane sama-sama bermain baik dalam Nights in Rodanthe.
Adu akting antara Gere dan Lane dalam satu layar bukanlah yang pertama kali. Nights in Rodanthe adalah yang ketiga kalinya mereka bertemu dalam satu scene. Pertama kali, keduanya dipertemukan sutradara Francis Ford Coppola dalam The Cotton Club, kemudian bertemu kembali dalam drama Unfaithful (2002). Jadi, wajar saja ketika bertemu dalam film ini, mereka mudah menyatukan chemistry yang ditawarkan. Hanya saja dalam film ini keduanya kurang dibekali oleh dialog-dialog yang dalam dan menyentuh hati.
Namun, bukan berarti apa yang ditawarkan Nights in Rodanthe tidak menarik untuk disimak. Sosok Adrianne dan Flanner bisa jadi mewakili setiap orang ketika dalam usia tuanya masih menemukan getaran-getaran cinta yang kuat. Apalagi, ketika ternyata cinta itu memberikan sesuatu yang lain, kekuatan untuk melakukan apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak terasa tak mampu dilakukan.
Juga tidak berarti, apa yang ditawarkan dalam Nights in Rodanthe hanya untuk mereka yang berumur. Mereka yang baru menginjak dewasa pun tidak akan canggung menyaksikan film ini. Karena kisah yang ditawarkan terasa universal, setiap orang sangat mungkin mengalaminya.
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.
Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduhh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”
duh da beberapa hari ini hanya dapat perbaikan program doank….just cuman ngabisin waktu 2-3 jam buat perbaikinnya selebihnya ndak da kerjaan lagi….duh bosan banget ah. Browsing mah da biasa, uda smua didownloadin dari internet, mo gangguin orang …. yah pada sibuk smua, mo pulang ….hmmm blon waktunya kaleee….duh pain yah, bosan bgt gini2x trus. Jadi ngantuk niii.
Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. “Mau beli korek api?” “Ibu, belilah korek api ini.” “Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak.” Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, “Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita.” Gadis itu tertawa senang.
Sang kakek berkata,bahwa dalam diri manusia ada dua ekor elang. Elang yang satu selalu berpikiran negatif, mudah marah dan selalu punya prasangka buruk. Sedang elang yang lain selalu berpikiran positif, baik hati, dan suka hidup damai. Setiap hari kedua elang ini selalu berkelahi.
MORAL OF THE STORY:
Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.

Recent Comments